2 November 2026: Saya Mulai Nyantri Di Pondok Pesantren Al-Itqan Depok
Tanggal Posting : Senin, 2 November 2026 | 09:58
Liputan : Redaksi Coach Karyanto - Dibaca : 9 Kali
2 November 2026: Saya Mulai Nyantri Di Pondok Pesantren Al-Itqan Depok
2 November 2020- Pendiri Pondok Pesantren Al Itqan, KH. M. Yusuf HS bin H.M Mahfudz wafat di makamkan di Al Itqan, Depok.

Menyambung Silaturahmi, Mengenang Sang Kiai, dan Menapaki Jalan Menjadi Ahlul Qur’an

"Ada pertemuan yang berakhir dengan perpisahan. Namun, ada pula perpisahan yang justru melahirkan perjalanan baru..."

Subuh- hari Senin, 2 November 2026, menjadi hari yang istimewa dalam perjalanan hidup saya.

Di usia yang tak lagi muda, saya memutuskan untuk menjadi santri.

Bukan untuk mengejar gelar. Bukan pula untuk mendapatkan pengakuan. Melainkan untuk terus belajar, memperbaiki diri, dan semakin mendekatkan hati kepada Allah SWT melalui Al-Qur’an dan Al Hadits.

Tempat yang saya pilih adalah Pondok Pesantren Al-Itqan, Depok.

Ada alasan yang sangat personal mengapa saya memilih tempat ini. Bukan semata-mata karena ingin memperdalam ilmu Al-Qur’an, tetapi juga karena ada kenangan, persahabatan, dan ikatan silaturahmi yang ingin terus saya rawat.

Mengenang Sosok Kiai yang Bersahaja

Di tempat inilah saya pernah mengenal dan menjalin persahabatan dengan almarhum KH. Yusuf, pendiri Pondok Pesantren Al-Itqan.

Beliau bukan sekadar seorang kiai yang saya hormati. Bagi saya, beliau juga sahabat berbincang yang menyenangkan.

Karena usia kami tidak terpaut jauh, percakapan kami selalu terasa akrab.

Kami bisa duduk bersama berjam-jam. Membicarakan banyak hal. Kadang serius, kadang diselingi gurauan. Obrolan mengalir begitu saja, tanpa terasa waktu berlalu.

Ada kehangatan dalam setiap pertemuan. Ada kesederhanaan dalam cara beliau bertutur. Dan ada kenangan yang hingga kini tetap tersimpan di hati.

Namun, setiap perjumpaan di dunia memiliki batas waktunya.

Santri Al Itqan 2026 2

Pada 2 November 2020, KH. Yusuf berpulang ke rahmatullah. Enam tahun telah berlalu.

Dan hari ini, tepat 2 November 2026, saya ingin merajut tali silaturahmi lagi di Al-Itqan.

Tentu, bukan lagi untuk duduk berlama-lama dan bercanda bersama beliau.

Melainkan untuk meneruskan sesuatu yang dulu pernah saya sampaikan kepada almarhum: belajar Al-Qur’an di pesantren yang beliau dirikan.

Dari Persahabatan Menuju Talaqqi Al-Qur’an

Hari pertama saya nyantri dimulai dengan mengikuti talaqqi Surah Al-Ma’idah ayat 65-82, dibimbing oleh Ustadz A. Fikri, putra kedua almarhum KH. Yusuf.

Ada perasaan yang sulit saya lukiskan.

Dahulu, saya datang ke Al-Itqan untuk bersilaturahmi dan berbincang dengan sang ayah.
Kini, saya datang untuk belajar Al-Qur’an kepada putranya.

Sungguh, kehidupan memiliki cara yang indah untuk menyambungkan kembali tali-tali kebaikan.

Dalam Surah Al-Ma’idah ayat 65-66, Allah SWT mengingatkan tentang keimanan, ketakwaan, dan pentingnya berpegang teguh pada petunjuk-Nya.

Pesan itu terasa begitu relevan bagi saya.

Semakin bertambah usia, semakin saya menyadari bahwa yang paling penting bukanlah seberapa banyak yang sudah kita ketahui, melainkan seberapa sungguh-sungguh kita mengamalkan petunjuk Allah SWT dalam sisa perjalanan hidup ini.

Talaqqi bukan sekadar membaca ayat. Ini adalah kesempatan memperbaiki bacaan melalui bimbingan ustadz yang bersanad, belajar dengan rendah hati, dan menumbuhkan kedekatan dengan Kalamullah.

Ziarah yang Menghidupkan Kenangan

Usai talaqqi, langkah saya berlanjut menuju makam almarhum KH. Yusuf. Saya berziarah, membaca Surah Yasin, dan memanjatkan doa untuk beliau. Di hadapan pusara itu, ingatan saya seolah kembali berputar.

Saya teringat wajah beliau. Percakapan-percakapan panjang kami. Canda dan gurauan yang dahulu membuat waktu terasa begitu singkat.

Kini, tak ada lagi percakapan dua arah. Yang ada hanyalah kenangan, rasa rindu, dan do’a.

Enam tahun lalu, beliau meninggalkan dunia. Hari ini, saya kembali ke pesantrennya untuk menimba ilmu Al-Qur’an.

Betapa Allah mempertemukan manusia dalam berbagai jalan kebaikan.

Saya berdoa semoga Allah SWT melapangkan kuburnya, menerima amal ibadahnya, dan menjadikan ilmu serta kebaikan yang terus tumbuh di Al-Itqan sebagai bagian dari amal jariahnya.

Aamiin ya Rabbal ’alamin.

Santri Al Itqan 2026 3

Menjadi Santri, Tak Mengenal Batas Usia

Keputusan saya untuk mulai nyantri pada 2 November 2026 ini juga membawa sebuah pesan yang ingin saya bagikan. Pasti Allah SWT yang mengatur, hari ini- hari dimana 6 tahun lalu- Kiai Yusuf memenuhi takdirnya- meninggalkan pondok pesantren yang beliau dirikan dengan segala keikhlasnnya.

Belajar Al-Qur’an tidak mengenal kata terlambat.

Kita mungkin sudah menyelesaikan pendidikan formal. Sudah puluhan tahun bekerja. Sudah melewati berbagai pencapaian kehidupan.

Namun, di hadapan Al-Qur’an, kita tetaplah seorang pembelajar.

Rasulullah SAW bersabda:
"Sebaik-baik kalian adalah orang yang mempelajari Al-Qur’an dan mengajarkannya."
(HR. Al-Bukhari No. 5027)

Hadis ini menguatkan niat saya untuk terus belajar, meskipun usia semakin bertambah. Bagi saya, masa pensiun bukanlah masa berhenti bertumbuh.

Justru inilah kesempatan untuk lebih bersungguh-sungguh mempersiapkan bekal kehidupan yang abadi.

Bila dahulu kita sibuk mengejar ilmu untuk kehidupan dunia, mengapa sekarang tidak semakin tekun mempelajari ilmu yang membimbing perjalanan menuju akhirat?

Bila dahulu kita meluangkan banyak waktu untuk pekerjaan, mengapa kini tidak menyediakan waktu khusus untuk Al-Qur’an?

Menyambung Silaturahmi, Merawat Warisan Kebaikan

Mulai hari ini, insyaallah, saya akan terus belajar di Pondok Pesantren Al-Itqan bersama Ustadz A. Fikri.

Saya ingin menjadikan kegiatan ini sebagai ikhtiar untuk memperbaiki bacaan, memperdalam pemahaman, dan meningkatkan pengamalan Al-Qur’an.

Sekaligus menjaga silaturahmi dengan keluarga besar Al-Itqan yang telah terjalin sejak almarhum KH. Yusuf masih bersama kita.

Ada sebuah makna yang begitu menyentuh hati saya:

"Dahulu saya bersahabat dengan ayahnya. Kini saya berguru kepada putranya."

Persahabatan yang dahulu terjalin melalui percakapan, kini saya lanjutkan melalui pembelajaran Al-Qur’an.
Semoga menjadi jalan kebaikan yang tidak terputus.

Pensiun Mulia, Menjadi Sahabat Al-Qur’an

Perjalanan ini semakin meneguhkan keyakinan saya bahwa Pensiun Mulia bukan hanya tentang tetap produktif, berpenghasilan, dan berkarya.

Lebih dari itu, Pensiun Mulia adalah tentang menjaga keseimbangan kehidupan, memperkuat spiritualitas, serta menyiapkan warisan nilai dan kebaikan.

Salah satu ikhtiarnya adalah menjadi sahabat Al-Qur’an.

Membacanya. Mempelajarinya. Memahami maknanya. Mengamalkan pesan-pesannya. Saya menyadari masih banyak kekurangan dalam diri. Masih banyak yang harus dipelajari dan diperbaiki. Karena itulah, saya memilih untuk kembali menjadi santri.

Senin, 2 November 2026.

Enam tahun setelah kepergian almarhum KH. Yusuf, saya memulai babak baru di pesantren yang beliau dirikan.
Semoga langkah kecil ini menjadi bagian dari perjalanan panjang menuju rida Allah SWT.

Selamat jalan, Kiai Yusuf. Terima kasih atas persahabatan dan kenangan indah yang pernah kita rajut.

Hari ini saya kembali ke Al-Itqan. Bukan untuk mengulang percakapan masa lalu, tetapi untuk melanjutkan jejak kebaikan yang telah Kiai tinggalkan.

Dahulu kita dipertemukan oleh silaturahmi. Semoga kelak Allah mempertemukan kita kembali dalam rahmat dan surga-Nya.

Aamiin ya Rabbal ’alamin.
Coach Karyanto
Nyantri di Al-Itqan, Depok, Senin, 2 November 2026. Terus Berkarya, Hidup Penuh Berkah.


Kolom Komentar
Berita Terkait

Copyright 2024. All Right Reserved. @coachkaryanto

Coach Karyanto Pionir Program Pensiun Mulia.  Link IG coachkaryanto: