![]() |
| Pengukuhan Ikatan Alumni SNESKA SMPN 1 Kawedanan, Magetan, Sabtu, 12 September 2026. |
Jumat sore, 11 September 2026- suasana berbeda terasa di SMP Negeri 1 Kawedanan, Magetan, Jawa Timur. Sekolah itu kembali menerima salah satu alumninya-Coach Karyanto, alumni SNESKA tahun 1977-untuk mengisi Webinar Nasional IKA SNESKA 2026.
Hampir setengah abad setelah meninggalkan bangku sekolah tersebut, Coach Karyanto kembali "pulang" ke sekolah.
Kali ini ia datang membawa satu pesan penting untuk generasi pelajar di tengah derasnya perkembangan kecerdasan buatan (AI):
"AI akan semakin pintar. Oleh karena itu, manusia harus semakin kuat mengusai soft skill."
Pesan tersebut disampaikan dalam tema webinar nasional "3 Soft Skills yang Tidak Bisa Digantikan AI: Kunci Sukses Pelajar untuk Tetap Produktif, Adaptif & Relevan di Era AI."
Acara berlangsung secara hybrid, mempertemukan peserta secara langsung di SMPN 1 Kawedanan dan peserta yang mengikuti melalui Zoom. Bahkan juga diikuti secara online oleh beberapa sekolah SMP di Gorang-Gareng , Magetan.
Tampak hadir, Kepala Sekolah SMPN 1 Kawedanan, Esti Nurhayati, Ketua Ikatan Aumni SNESKA, Setyo Wuryanto, dan sejumlah penurus dan alumni.
Webinar yang dipandu oleh moderator Agus Budi (Pengurus IKA SNESKA) dan MC Yamirah (Pengurus IKA SNESKA)- webinar ini sangat interaktif karena peserta dapat bertanya jawab dengan Coach Karyanto untuk mendalami materi lebih aplikatif lagi.

Filosofi SUKSES 4T Masyarakat Jawa
Apa itu filosofi 4T? Yaitu: Tata, Titi, Tatas, Titis - sebuah Kearifan Masyarakat Jawa untuk Sukses Karier dan Menjalani Kehidupan,
Di tengah derasnya perkembangan kecerdasan buatan (AI), manusia menghadapi pertanyaan penting: apa yang membuat seseorang tetap unggul ketika teknologi semakin pintar?
Jawabannya tidak selalu harus berasal dari teknologi baru. Bisa jadi, kita justru perlu menggali kembali kearifan lokal yang telah diwariskan leluhur.
Salah satunya adalah filosofi Jawa: Tata, Titi, Tatas, Titis-empat prinsip sederhana yang dapat diterjemahkan menjadi formula praktis untuk bekerja, membangun karier, mengambil keputusan, sekaligus menjalani kehidupan.
Konsep inilah yang saya sampaikan menjawab pertanyaan peserta pada Webinar Nasional "3 Soft Skills yang Tidak Bisa Digantikan AI" di SMP Negeri 1 Kawedanan.
Bagi saya, 4T merupakan cara sederhana untuk mengajarkan bahwa sukses bukan hanya soal menjadi pintar, tetapi juga bagaimana seseorang mengatur diri, bekerja dengan cermat, menuntaskan tanggung jawab, dan mencapai sasaran dengan tepat.
Menariknya, makna ini memiliki dasar kuat dalam kosakata Jawa. Tata antara lain sebagai mengatur, menyusun, atau menata; titi sebagai hati-hati dan sangat teliti; tatas sebagai tuntas; sedangkan titis bermakna tepat sasaran.
1. TATA - Hidup dan Bekerja secara Teratur. Tata berarti tertata.
Dalam karier, orang yang tata tidak bekerja secara asal-asalan. Ia memiliki tujuan, prioritas, jadwal, sistem kerja, dan disiplin.
Sebelum melakukan sesuatu, ia bertanya: Apa yang ingin saya capai? Apa prioritasnya? Bagaimana langkahnya?
Dalam kehidupan, prinsip ini berarti kemampuan menata waktu, pekerjaan, keuangan, hubungan, kesehatan, bahkan pikiran.
Tanpa tata, energi besar bisa terbuang karena aktivitas tidak memiliki arah.
Filosofi kepemimpinan Jawa juga menempatkan tata sebagai kemampuan berpikir, berbicara, dan bekerja secara sistematis.
Formula: TATA = Tujuan + Prioritas + Sistem + Disiplin.

2. TITI - Teliti Sebelum Bertindak.
Setelah pekerjaan tertata, diperlukan titi: teliti, cermat, hati-hati.
Di era AI, kemampuan ini justru semakin penting. AI dapat menghasilkan informasi dengan cepat, tetapi manusia tetap harus mampu memeriksa, mempertanyakan, memvalidasi, dan menggunakan penalaran.
Dalam karier, titi berarti tidak mudah mengambil keputusan berdasarkan asumsi. Periksa data, dengarkan orang lain, evaluasi risiko, dan belajar dari kesalahan.
Dalam kehidupan, titi mengajarkan kita untuk tidak reaktif. Berhenti sejenak sebelum berbicara, sebelum mengirim pesan, sebelum mengambil keputusan.
Formula: TITI = Teliti + Verifikasi + Refleksi + Kehati-hatian.
3. TATAS - Menuntaskan Apa yang Dimulai.
Banyak orang memiliki ide. Banyak pula yang pandai memulai. Tetapi tidak semua mampu menyelesaikan.
Di sinilah pentingnya tatas. Dalam KBJI, tatas berarti antara lain putus sama sekali atau tuntas.
Dalam karier, tatas berarti memiliki ownership: bertanggung jawab sampai pekerjaan selesai, bukan berhenti ketika menghadapi kesulitan.
Dalam kehidupan, prinsip ini mengajarkan pentingnya menyelesaikan amanah, menepati janji, membereskan persoalan, dan tidak meninggalkan terlalu banyak "utang kehidupan".
Formula: TATAS = Komitmen + Eksekusi + Ketekunan + Penyelesaian.
4. TITIS - Tepat Sasaran dan Berdampak.
Tiga prinsip sebelumnya akan kehilangan makna jika tidak menghasilkan sasaran yang tepat.
Titis berarti tepat sasaran. Orang dapat bekerja sangat keras tetapi tetap gagal apabila tenaganya diarahkan pada sasaran yang keliru.
Karena itu, titis mengajarkan efektivitas: bukan sekadar sibuk, tetapi menghasilkan sesuatu yang benar-benar penting.
Dalam karier, tanyakan: Apakah pekerjaan saya menghasilkan nilai?
Dalam kehidupan: Apakah waktu, tenaga, dan kemampuan saya digunakan untuk sesuatu yang bermakna?
Formula: TITIS = Fokus + Ketepatan + Relevansi + Dampak.
4T: Kearifan Masyarakat Jawa untuk Era AI
Mengapa 4T relevan di era AI?

Karena masa depan pekerjaan tidak hanya membutuhkan kemampuan teknologi. World Economic Forum Future of Jobs Report 2025 menempatkan analytical thinking sebagai keterampilan inti teratas, disusul antara lain resilience, flexibility and agility, leadership, creative thinking, curiosity, dan lifelong learning. Di saat yang sama, AI dan big data termasuk keterampilan yang pertumbuhannya paling cepat.
Di sinilah 4T menemukan relevansinya.
- Tata membangun keteraturan.
- Titi membangun kecermatan berpikir.
- Tatas membangun ketangguhan untuk menyelesaikan.
- Titis memastikan semua usaha menghasilkan sasaran dan dampak.
Jadi, sukses bukan hanya menjadi manusia yang mampu menggunakan AI, tetapi menjadi manusia yang tahu untuk apa AI digunakan.
Formula Coach Karyanto > TATA → TITI → TATAS → TITIS
- Tertata cara kerjanya.
- Teliti cara berpikirnya.
- Tuntas tanggung jawabnya.
- Tepat sasarannya.
Inilah filosofi sederhana yang dapat menjadi bekal generasi muda: teknologi boleh semakin cerdas, tetapi manusia harus semakin bijaksana.
Sebab pada akhirnya, karier yang sukses bukan hanya tentang seberapa tinggi kita naik, tetapi seberapa baik kita menjalani perjalanan dan seberapa besar manfaat yang kita tinggalkan.
Coach Karyanto (Pionir Program Pensiun Mulia Indonesia)














